Gaya Hidup Berkelanjutan Jadi Tema Perdana Kelas X SMA Sedes Sapientiae Semarang

Gaya Hidup Berkelanjutan Jadi Tema Perdana Kelas X SMA Sedes Sapientiae Semarang

Semangat keberlanjutan tumbuh dari hal yang sederhana. Itulah yang menjadi napas kegiatan kokurikuler kelas X SMA Sedes Sapientiae selama sepekan ini (28 September–2 Oktober 2026) dengan tema Gaya Hidup Berkelanjutan.

Rangkaian diawali pada hari pertama dengan seminar inspiratif tentang ekonomi sirkular dan perubahan pola konsumsi. Dengan menghadirkan Bapak Catur dari Bank Sampah Semarang sebagai narasumber, peserta diajak melihat kembali barang-barang bekas di sekitar sebagai bahan yang masih punya nilai dan cerita. Bukan untuk dibuang, melainkan untuk dihidupkan kembali menjadi sebuah karya.

Gagasan itu langsung diwujudkan pada hari kedua. Di kelas masing-masing, siswa berkelompok untuk merangkai kepingan-kepingan bekas menjadi mozaik. Suasana kelas begitu hidup, penuh diskusi, saling membantu, dan tawa kecil saat menyatukan warna. Pilihan temanya pun beragam dan dekat dengan kehidupan: flora, fauna, rumah adat, tokoh berpengaruh, hingga St. Fransiskus Assisi sebagai teladan cinta pada ciptaan.

Karya yang telah jadi tidak berhenti sebagai pajangan. Pada hari ketiga, setiap kelompok mengabadikannya dalam bentuk video kreatif yang merekam proses dan makna di balik mozaik mereka. Hasil video tersebut kemudian dipresentasikan, menjadi ruang untuk belajar bercerita, mendengarkan, dan menghargai karya teman.

Perjalanan berlanjut di hari keempat dengan tantangan baru. Siswa kembali berkarya dengan tema yang berbeda: presiden, wakil presiden, pahlawan nasional, atlet terkenal, dan Ibu Magdalena Daemen. Jika hari sebelumnya mereka belajar tentang alam dan keteladanan, hari ini mereka belajar tentang kepemimpinan, perjuangan, dan kesetiaan dalam panggilan sederhana.

Sebagai penutup pada hari kelima, selasar depan kelas disulap menjadi galeri kecil. Semua mozaik digelar dalam gallery walk. Juri berkeliling mengamati satu per satu karya dengan kriteria yang jelas, sementara setiap kelompok juga diberi ruang untuk menilai kelompok lain menggunakan rubrik dari panitia. Penilaian menjadi proses belajar bersama tentang objektivitas dan apresiasi.Acara berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Dari kepingan barang bekas, anak-anak belajar bahwa gaya hidup berkelanjutan dimulai dari kepedulian, kreativitas, dan kemauan untuk bekerja sama.Selamat belajar dan tetap optimis. #Evaristus908

Bagikan Melalui :

Facebook
X
LinkedIn
Email
WhatsApp
Threads
Telegram