Ketika Sambung Nyawa Menjadi Awal Perjalanan ke Panggung Internasional: Berakhir sebagai Peraih Gold Medal IIIEX dan WICE 2026

Ketika Sambung Nyawa Menjadi Awal Perjalanan ke Panggung Internasional: Berakhir sebagai Peraih Gold Medal IIIEX dan WICE 2026

    Semuanya berawal dari sebuah ide sederhana: bagaimana Gynura procumbens atau yang biasa kita kenal dengan daun sambung nyawa dapat dikembangkan untuk menjawab salah satu permasalahan kesehatan? Dari pertanyaan itu, kami, membawa nama SMA Sedes Sapientiae Semarang, memulai penelitian “Development of Gynura procumbens-Based Nanophytopharmaceuticals as Inhibitors of Foam Cell Formation in Atherosclerosis.”

    Pada awalnya, kami hanya memiliki sebuah ide dan rasa ingin tahu. Namun, untuk menjadikannya sebuah penelitian, kami harus melewati banyak proses; membaca jurnal, memahami metode, melakukan ekstraksi, menganalisis data, berdiskusi, dan berkali-kali melakukan revisi. Tidak semuanya berjalan sesuai rencana. Ada rasa lelah, bingung, bahkan ragu, tetapi kami memilih untuk terus mencoba dan belajar dari setiap kesalahan. Puji Tuhan, di setiap proses selalu ada jalan dan orang-orang yang membantu kami untuk terus melangkah.

    Perjalanan kami kemudian membawa penelitian ini ke kompetisi POLINES. Di sana, kami belajar bagaimana menyampaikan penelitian di hadapan juri, menjawab pertanyaan yang tidak terduga, dan benar-benar memahami apa yang kami kerjakan. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga ketika kami kembali mempersiapkan diri untuk membawa penelitian yang sama ke tingkat internasional.

    Hingga akhirnya, kami berdiri di SEGi University, Malaysia, sebagai peserta WICE 2026. Di balik presentasi yang singkat, ada berbulan-bulan kerja keras, latihan, diskusi, revisi, dan doa yang kami bawa bersama. Puji Tuhan, nama tim kami akhirnya dipanggil sebagai Gold Medalist WICE 2026. Tidak berhenti di sana, penelitian kami juga berhasil meraih IYSA Grand Prize.

    Bagi kami, pencapaian tersebut bukan sekadar medali atau piala. Di baliknya ada enam orang yang belajar untuk saling menguatkan, menghadapi tantangan, menerima kritik, dan tetap percaya pada proses. Enam orang itu adalah Emilia Atika Hendriyanti, Fidela Jacqlien Handoyo, Margareth Maharani Situmeang, Marsellus Rendra Kristiaji Baskara, Ramya Krislyn Jeneliya, dan Yusuf Budi Prabawa, yang bersama-sama membawa satu ide dan satu penelitian ini melewati begitu banyak proses. Yang awalnya hanya sebuah ide kecil di Semarang, ternyata membawa kami jauh hingga ke panggung internasional.

    Ketika melihat kembali perjalanan ini, kami sadar bahwa mungkin bukan hasil akhirnya yang paling berharga, melainkan setiap langkah yang membawa kami sampai di sana. Puji Tuhan untuk setiap kesempatan, setiap perjuangan, dan setiap orang yang menjadi bagian dari perjalanan ini.

    Jika sebuah ide kecil saja dapat membawa kami sejauh ini, kami tidak sabar melihat ke mana langkah berikutnya akan membawa kami.

  • Fidela Jacqlien Handoyo XII-E/10

Bagikan Melalui :

Facebook
X
LinkedIn
Email
WhatsApp
Threads
Telegram