Stevia : Between Borders & Beginnings

Stevia : Between Borders & Beginnings

Hey there, Sedesian! Let’s talk about life after Sedes. Selama ini mungkin kita sering lihat kakak-kakak alumni dari jauh “oh, kakak ini sekarang kuliah di sana”, “yang itu masuk jurusan ini” tapi sebenarnya, gimana sih perjalanan mereka sampai akhirnya bisa ada di titik yang biasanya kita lihat itu? 

Yuk, kita kenalan lebih dekat dengan alumni yang akan sharing tentang kehidupan mereka setelah lulus, pilihan yang mereka ambil, cerita di baliknya, dan tentu saja tips dari mereka buat kita semua. First story, let’s meet Stevia!, yang baru saja lulus dari SMA Sedes Sapientiae dan sekarang sudah resmi menjadi mahasiswi Hubungan Internasional di Universitas Diponegoro. Let’s take a closer look at Stevia’s story!

Pernah ngerasa putus asa dan nggak ada harapan buat masuk kuliah, ternyata kalau Tuhan mengizinkan, pasti akan selalu ada jalan. Hai semua! Aku Regina Stevia Tandayu, alumni Sedes lulusan 2026 dan sekarang sedang menempuh studi di Universitas Diponegoro, program studi Hubungan Internasional. 

Dari kecil dulu aku pernah ngalamin kebingungan arah, cita-cita yang berubah-ubah, dan bahkan nyaris nggak bisa masuk jurusan yang aku mau karena sempat salah jurusan di SMA. Dulu waktu SD aku punya mimpi mau jadi dokter atau pramugari. Lalu karena aku orangnya nggak suka darah, dan waktu SD dulu aku punya gigi gingsul, otomatis aku melepas mimpiku jadi dokter dan pramugari. Lalu masuk ke dunia SMP, mimpi aku mulai mengarah pengen jadi pebisnis (mungkin efek pelet Pinterest & TikTok kali ya). Mimpi itu terus berjalan sampai SMA, and it turns out waktu di SMA aku semakin banyak ikut organisasi dan kegiatan, lomba-lomba, and mostly kegiatan yang berkaitan dengan entertainment atau penampil di depan layar, aku banting setir pengen jadi reporter dan travelling content creator. Mimpi itu semakin dalam saat aku mengikuti lomba film pendek bersama teman-temanku. Aku semakin kepo sama kamera, akting, voice-over talent, dan lain sebagainya. Sampai endingnya, di kelas 11 aku harus memilih kelas penjurusan. 

Awalnya pengen banget masuk kelas IPS, tapi ada beberapa keraguan yang akhirnya membawa langkahku untuk memilih jurusan A dengan fokus studi ekonomi, bahasa Inggris lanjut, matematika lanjut, kimia, fisika, dan sejarah. Awalnya kupikir bakal mudah, tapi giliran nyemplung… BEUH sulit bray  😭  bisa dihitung kok berapa kali aku remidi sampai-sampai rata-rata nilai raporku menurun dari semester satu dan dua. FYI, dari SD aku selalu punya mimpi untuk bisa masuk perguruan tinggi lewat jalur undangan alias prestasi. Tapi denger-denger dari kakak kelas sama guru bimbel, kalau mau lolos SNBP harus konsisten menaikkan rerata rapornya. Apa nggak ketar-ketir aku. Mana waktu itu aku udah kepikiran mau masuk jurusan ilmu komunikasi dan untuk pilihan kedua yaitu hubungan internasional, tapi malah mapel pendukung untuk masuk ke jurusan tadi nggak ada di jurusan SMA aku. Tapi berbekal “NEKAT”, aku coba gas pokoknya yang penting aku lulus dengan nilai tinggi dulu.

Seiring berjalannya waktu, try out simulasi UTBK dari bimbelku dimulai. Aku mengikuti beberapa TO, tapi nilai aku tetep nggak bisa reach 600, karena waktu itu aku masih sibuk banget di sekolah. Ditambah beban overthinking aku linjur, fokus studi aku nggak sesuai prodi ilkom yang butuh sosiologi dan antropologi, ditambah kalau masuk HI aku mikirnya harus bisa bahasa Inggris dari awal kuliah, nilai TO inten yang nggak tinggi, akhirnya aku cuma bisa berharap bisa lolos SNBP. Kalau nggak lolos, udah aku cabut ke swasta. Akhirnya, setelah konsultasi sama guru bimbel, prediksi nilai UTBK aku bakalan lebih aman di sastra Inggris. Di Ilkom jelas nggak aman, sementara di HI cukup lah nilainya. Akhirnya aku nekat trabas, berhubung jurusan HI bisa terima nilai ekonomi dan bahasa Inggris, akhirnya aku switch jurusan HI ke pilihan pertama dan Ilkom di pilihan kedua. 

Waktu daftar SNBP pun aku isi sesuai pilihan finalku. Selama sebulan aku selalu berdoa novena dan setiap malam berdoa agar aku bisa lolos SNBP. Fast forward ke hari H pengumuman. Waktu itu udah libur sekolah. Aku sama temen-temen aku lagi kelas di bimbel (aku bimbel di INTEN). Pas tepat jam 3 sore, tanggal 31 Maret 2026, kita semua denger anak-anak kelas lain teriak. Ada yang teriak karena lolos, ada juga yang teriak karena kecewa. Kelasku sendiri waktu itu dihimbau untuk buka di rumah. Tapi apesnya waktu aku bubaran inten, ada guru aku yang bilang “sini bapak bukain hasilnya, nggak bakal bapak spill kok ke kamu”. Aku udah percaya nih gak bakal di-spill, ya udah, aku kasih nomor registrasinya. Tapi guru aku itu bohong, malah hasilnya ditunjukin ke aku. Di situ kaki aku langsung lemas sejadi-jadinya karena ternyata aku keterima SNBP di pilihan pertama aku, yaitu Hubungan Internasional  Universitas Diponegoro. 

Until now, aku dengan happy menjalani keseharianku sebagai maba di jurusan yang cocok banget sama aku. Dan sampai sekarang mimpiku masih sama, yaitu bisa jadi presenter berita dan travelling content creator, serta keliling dunia sambil dibayarin 😋. Satu pesan dari aku buat adek-adek aku, gapapa kok kalau kita bingung mau melangkah ke mana, tapi selalu punya prinsip aku akan menghidupi mimpi dan dunia di mana aku selalu senang menjalani hidup dan pekerjaanku itu sekalipun banyak kesulitan yang kuhadapi. Karena di saat kita meminta kepada Tuhan dan Tuhan merestui, maka segala jalan apa pun akan terbuka bagi kita. That’s all from me, and see you on the next journey, Sedesian!

— Aveline Angelita W / XI-B4 /3 & Regina Stevia Tandayu 

Bagikan Melalui :

Facebook
X
LinkedIn
Email
WhatsApp
Threads
Telegram