
Generasi Hebat
Mendidik anak Gen Z yang tumbuh di era digital
dengan arus informasi serapace cepat ini memang punya
dinamika tersendiri. Ketika kita meminta mereka
melakukan sesuatu seperti membereskan kamar, belajar,
atau sekadar mematikan ponsel, jawaban yang paling
sering terdengar mungkin adalah “Nanti dulu, Ma/Pa,”
atau istilah populernya: “Sak sik sak sik…” alias menunda
nunda pekerjaan.
Menghadapi perilaku ini dengan
omelan berulang atau nada tinggi sering kali justru
memicu resistensi, sehingga kita membutuhkan strategi
pendampingan yang lebih humanis, komunikatif, dan
relevan dengan cara berpikir mereka.
Langkah awal yang sangat penting adalah memahami
akar dari kebiasaan menunda tersebut. Bagi remaja Gen Z,
penundaan atau prokrastinasi jarang sekali disebabkan
oleh rasa malas murni; sering kali itu adalah bentuk
emotional overwhelm atau rasa kewalahan menghadapi
tumpukan tugas dan stimulasi digital yang tiada habisnya.
Ketika sebuah instruksi terasa terlalu besar atau
memotong kesenangan yang sedang mereka nikmati, otak
mereka secara alami memilih untuk menundanya. Dengan
memahami sudut pandang ini, kita bisa menggeser
pendekatan dari menghakimi menjadi merangkul.
Trik pertama yang cukup ampuh untuk memutus
rantai “sak sik sak sik” adalah dengan menerapkan teknik
kesepakatan waktu yang spesifik, bukan perintah
mendadak. Alih-alih bilang, “Ayo cepat bereskan kamarmu
sekarang!”, cobalah bernegosiasi secara tenang, “Mama
minta tolong kamarnya dibersihkan sebelum jam 5 sore ya,
terserah kamu mau mulai menit ke berapa.” Pendekatan ini
memberi mereka ruang kontrol dan otonomi atas
waktunya sendiri dua hal yang sangat dihargai oleh
generasi muda sehingga mereka merasa dihormati, bukan
diatur secara otoriter.
Selain mengatur waktu, cobalah bantu mereka
memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang
tidak menakutkan (chunking method). Instruksi yang terlalu
umum seperti “Belajar yang rajin!” sering kali
membingungkan dan memicu penundaan karena mereka
bingung harus mulai dari mana. Ubah instruksi tersebut
menjadi tindakan kecil yang konkret, misalnya, “Coba buka
bukunya dulu dan kerjakan dua nomor saja.” Begitu mereka
berhasil melewati hambatan pertama yang kecil itu,
dorongan untuk menyelesaikan sisanya biasanya akan
mengalir dengan jauh lebih mudah.
Strategi berikutnya adalah mengubah nada bicara
dari kalimat perintah menjadi bentuk kerja sama dan
apresiasi. Gen Z sangat peka terhadap cara kita
berkomunikasi; mereka lebih siap merespons percakapan
yang sejajar ketimbang nada mendikte. Alih-alih fokus
pada hal yang belum mereka lakukan, berikan pengakuan
saat mereka berhasil melakukan sesuatu tepat waktu
tanpa harus diminta berulang kali. Pujian yang tulus atas
usaha kecil mereka akan membangun rasa percaya diri
serta memotivasi mereka untuk mengulangi perilaku
positif tersebut.
Di samping itu, kita juga perlu konsisten dalam
menegakkan konsekuensi logis yang disepakati bersama,
bukan hukuman yang emosional. Jika kesepakatan waktu
yang sudah dibuat ternyata dilanggar, biarkan mereka
merasakan dampak dari penundaan tersebut secara wajar.
Misalnya, jika mereka menunda membersihkan sepatu
sekolahnya sampai malam, konsekuensinya adalah
mereka sendiri yang harus memakainya dalam kondisi
kurang bersih keesokan harinya. Pengalaman langsung ini
mengajarkan tanggung jawab secara nyata tanpa perlu
membuat hubungan orang tua dan anak menjadi
renggang.
Membangun ikatan emosional dan ruang dialog yang
aman (safe space) juga menjadi pilar mendasar dalam
mendampingi Gen Z. Luangkan waktu untuk sekadar
ngobrol santai tanpa membahas tuntutan tugas, sekolah,
atau aturan rumah. Dengarkan apa yang sedang mereka
rasakan, hobi yang sedang mereka tekuni, atau kelelahan
yang sedang mereka hadapi. Ketika anak merasa dicintai
dan dipahami tanpa syarat, mereka akan jauh lebih
terbuka untuk mendengarkan arahan dan nasihat yang
kita berikan di kemudian hari.
Pada akhirnya, mendampingi anak Gen Z adalah
sebuah seni menguji kesabaran dan proses belajar bagi kita
sebagai orang tua. Perubahan kebiasaan dari menunda
nunda menjadi lebih bertanggung jawab tidak akan terjadi
dalam semalam, melainkan lewat pembiasaan kecil yang
konsisten setiap hari. Dengan memadukan ketegasan yang
lembut, komunikasi yang empati, serta rasa saling
percaya, kita tidak hanya membantu mereka mengatasi
sifat “sak sik sak sik”, tetapi juga membekali mereka
menjadi pribadi yang mandiri dan matang di masa depan.# Ecah26