Live In Bertajuk “Fraternitas Pacifera et Inspirans”

Live In Bertajuk “Fraternitas Pacifera et Inspirans”

Sebanyak 362 siswa-siswi kelas XI SMA Sedes Sapientiae Semarang sukses melaksanakan kegiatan Live In bertajuk “Fraternitas Pacifera et Inspirans” (Persaudaraan yang Membawa Damai dan Inspirasi). Selama empat hari, tepatnya pada 13 hingga 16 Oktober 2026, para Sedesian ini keluar dari zona nyaman perkotaan demi mencecap langsung denyut nadi kehidupan masyarakat pedesaan.

Kegiatan pembentukan karakter ini berpusat di wilayah Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Klaten, Jawa Tengah. Di bawah koordinasi Bapak Heru beserta tim pendamping, seluruh peserta disebar ke empat dusun utama, yaitu Jali, Serut, Watu Kandang, dan Dawung. Langkah ini diambil agar dinamika sosial yang dialami para siswa dapat berjalan secara intensif dan merata di setiap komunitas warga.

Begitu menginjakkan kaki di lokasi, riuh rendah suasana kota berganti menjadi kehangatan pelukan keluarga asuh. Para siswa langsung dilebur ke dalam rumah-rumah warga dan diperlakukan layaknya anak kandung sendiri. Tidak ada sekat pembatas; mereka harus beradaptasi dengan ritme hidup, menu makanan sederhana, hingga aturan adat yang berlaku di masing-masing lingkungan baru tersebut.

Esensi dari Live In ini terwujud nyata saat fajar mulai menyingsing, di mana para Sedesian wajib mengikuti seluruh rutinitas harian orang tua asuh mereka. Tanpa canggung, anak-anak kota ini turun ke sawah untuk bertani, membantu menjajakan barang dagangan di pasar, menyabit rumput demi memberi makan ternak, hingga menyapu pelataran rumah. Keringat dan canda tawa menyatu, mengikis ego ego-sentris remaja dan menumbuhkan rasa hormat mendalam pada kerja keras.

Melalui interaksi yang intim ini, tujuan utama kegiatan untuk berdinamika mengenal desa dengan keunikan budaya dan inspirasinya berhasil tercapai. Para siswa tidak sekadar menonton, tetapi menyerap kearifan lokal tentang bagaimana cara hidup berdampingan dengan alam, merawat toleransi, dan mensyukuri kesederhanaan. Setiap sudut dusun Jali, Serut, Watu Kandang, dan Dawung menyuguhkan ruang refleksi yang mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan.

Ketika lonceng perpisahan berbunyi pada 16 Oktober, tangis haru dan pelukan erat antara siswa dan orang tua asuh pecah di setiap pelataran rumah. Kegiatan ini resmi berakhir, namun api persaudaraan yang membawa damai dan inspirasi telah tertanam kuat di hati para Sedesian. Evaristus Cahya Triastarka selaku koordinator menyampaikan terima kasih kepada Romo, panitia, umat yang mendukung terselenggaranya kegiatan Sedesian dengan baik dan lancar. Semoga di tahun mendatang adik-adik kelas bisa berproses di tempat ini. Akhirnya mereka lanjut  pulang ke Semarang dengan tidak hanya membawa tas pakaian, melainkan sebuah kedewasaan baru dan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih peduli pada sesama.# Cah26

Bagikan Melalui :

Facebook
X
LinkedIn
Email
WhatsApp
Threads
Telegram