Belajarlah dari Pengalaman

Riska Delisa

Ada pepatah mengatakan “Belajarlah dari pengalaman, karena pengalaman adalah guru terbaik.” Mungkin pepatah itu bisa menggambarkan bagaimana aku merubah sikapku dengan pengalaman live in. Awalnya aku berpikir apakah bisa aku menjalani live in ? Banyak sekali pertanyaan dan keraguan yang ada dalam benakku. Bagaimana tidak? Aku tipe anak yang jijikan. Hal kecil saja bisa membuatku jijik, seperti anak ayam, lantai yang tidak bersih, kasur yang kotor, dll. Namun aku harus melawan semuanya itu.

Pada tanggal 24-28 Oktober 2016 SMA Sedes Sapientiae mengadakan kegiatan tengah semester atau yang lebih disebut KTS. Pada KTS tahun ini seluruh siswa kelas X mengikuti kegiatan live in. Kegiatan live in diikuti oleh kurang lebih 398 siswa dan 16 guru pendamping. Ada 8 wilayah yang menjadi tempat live in. Kedelapan wilayah itu terdapat di Paroki St. Isodorus, Sukorejo, Kabupaten Kendal. Awalnya seperti biasa kita berkumpul di kelas masing-masing dan wali kelas mengadakan checking. Setelah semua clear, kiita menuju bus masing-masing. Saat di perjalanan menuju Sukorejo, aku sudah belajar 1 hal, yakni bagaimana cara kita menempatkan diri supaya dapat berbagi tempat dengan teman yang lain. Aku sengaja tidak duduk dengan teman yang sudah kukenal namun aku lebih memilih duduk dengan teman yang belum kukenal. Ditenggah-tenggah perjalanan aku sedikit ragu karena bus yang kami tumpangi selalu salah jalan. Untung saja ada Tasya yang mengerti daerah Sukorejo. Sesampainya di Gereja St. Isodorus kami menumpangi truk menuju Dusun Gemuh. Hal kecil dan sederhana berhasil kudapatkan yaitu jangan menjadi serakah dengan teman sendiri dan jangan buat mereka kesakitan. Perjalanan kurang lebih 1,5 jam dengan medan yang terdapat banyak tikungan dan juga jalan berbatu akhirnya  kami sampai di Dusun Gemuh Singkalan. Sangat ku apresiasi kepada warga Dusun Gemuh Singkalan yang mau menerima kami dengan ramah. Aku dan Phanie segera menemui Ibu angkatku. Kami bertempat tinggal di rumah Bapak Markus Slamet. Kaget pasti ada karena aku tak terbiasa pergi ke desa. Jalanan berbatu dan berlumpur menjadi sebuah tantangan tersendiri bagiku. Mungkin ini caraku untuk aku menjadi orang yang berani menghadapi medan baru. Pak Slamet dan Ibu Giyanti menyambutku dan Phanie dengan ramah. Mereka benar-benar menganggap kita sebagai anak kandungnya. Senang rasanya bisa hidup ditengah-tengan mereka. Disana aku juga memiliki 1 adik yaitu Cornelius Adhi Wiyanto yang akrab dipanggil Adhi. Menurutku, Adhi adalah anak yang pintar, ramah, dan sopan.

 

Kegiatan pertama yang aku lakukan disana adalah pergi ke ladang. Tak terlalu jauh namun aku harus jalan ditengah-tengan sawah dengan jalan yang berlumpur. Sesampainya di ladang aku benar-benar bisa menghirup udara tanpa tercemar asap kendaraan. Senang sekali rasanya bisa menikmati udara yang segar dengan pemandangan yang indah, yang jarang ku lihat di kota. Dengan berladang aku belajar menjadi sukses itu susah, dengan kerja keras saja tak cukup harus diimbangi dengan sikap sabar dan mau berbagi. Kehidupan keluarga pak Slamet sangat bergantung pada penghasilan ladang. Ladang jagung milik Pak Slamet panen setiap 3 bulan sekali, dan hanya itu pemasukan keluarga mereka. Ada sebuah kisah singkat yang telah membuatku terharu, yakni saat anak pak Slamet meminta leptop ia rela menunggu berbulan-bulan dan pak Slamet harus lebih keras lagi dalam bekerja agar uang yang ia hasilkan dapat digunakan untuk membeli laptop dan kebutuhan hidup keluarganya. Yang pastinya itu sangat terbalik dengan kehidupanku di kota. Dengan gampangnya aku meminta ini itu dengan orang tuaku tanpa aku berpikir kedepannya. Penghasilan yang didapatkan menurutku tak senilai dengan apa yg telah ia lakukan. 1 ton jagung hanya dihargai 4 juta. Ta setiap bulan jagung itu panen namun 3 bulan sekali. Uang 4 juta untuk menghidupi 5 orang selama 3 bulan, menurutku itu adalah hal yang mustahil namun itulah yang terjadi. Ibu Giyanti harus pintar dalam mengolah keuangan keluarga. Jika salah perhitungan sedikitpun akan berdampak kacau untuk kedepannya.

Selain berladang aku juga ikut membantu dalam menjemur jagung. Rasanya senang sekali bisa ambil bagian dalam tugas ini. Hal yang benar-benar belum pernah aku dapatkan di kota. Susah pasti, namun segala kesusahan itu telah terbayarkan dengan kepuasan. 1 nilai berharga lagi yang berhasil aku ambil yaitu lakukan tugasmu dengan tuntas, jangan setengah-setengah. Ada hal menarik disitu yakni saat aku dan Phanie sedang menjemur jagung tiba-tiba pak Slamet meninggalkan kita sehingga hanya tinggal kita berdua saja yang ada disana. Awalnya aku hanya bersantai-santai saja, namun aku sadar dengan cara pak Slamet pergi maka aku telah diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas itu. Begitu juga saat aku di rumah, orang tuaku telah memberikan aku kepercayaan untuk belajar di SMA Sedes Sapientiae, sekarang tinggal tugasku untuk tidak menyia-yiakan kesempatan itu.

Banyak sekali hal baru yang aku pelajari saat live in. Keluarga Pak Slamet telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagiku. Aku sadar akan pentingnya bersyukur akan segala sesuatu yang telah Tuhan beri kepada kita. Selain itu aku menyadari lebih baik kita benar-benar belajar dari nol dan kita terus berkembang hingga menjadi sukses. Buatlah sebuah target dan tanamkanlah target itu dalam hati, selanjutnya kita memilih jalan mana untuk mencapai target itu. Janganlah sombong akan semua yang kamu punya baik itu materi, nilai, ataupun keluargamu namun jadilah sederhana dan tetap rendah hati. Ingatlah Tuhan jika engkau sudah sukses, jangan dating saat kau susah namun saat kau sukses nanti datanglah kepada-Nya. Bapak Ibu terimakasih telah mengajarkanku banyak hal baru, banyak kesadaran baru. Aku takkan melupakan kalian. Sampai bertemu dilain waktu.

Refleksi

Banyak sekali hal yang telah aku lakukan selama live in. Akupun sudah mengambil nilai-nilai kesadaran / perubahan yang aku dapatkan selama live in. niali-nilai tersebut adalah :

  1. Kita harus mempunyai tujuan (sebut itu cita-cita)
  2. Suatu tujuan itu ada kerja kerasnya agar kita bisa mencapainya
  3. Janganlah sombong akan semua kelebihan kita namun tetaplah menjadi rendah hati dan ramah
  4. Selalu bersyukur kepada Tuhan, semua sesuatu harus disyukuri bukan ditolak
  5. Setiap “goals” pasti ada tantangan dan rintangan. Kita harus sabar dalam melakukan sebuah pekerjaan, lalui tantangan itu maka kamu akan bangga pada dirimu sendiri
  6. Lakukan suatu tugas dengan tuntas jangan setengah-setengah
  7. Berikanlah jawaban akan semua kesempatan yang telah orang tua kita beri
  8. Jika kamu sudah sukses, jangan lupa pada Tuhan. Tanpa campur tangan Tuhan kesuksesan yang kamu raih itu takkan terwujud

Aku sangat bersyukur bisa hidup di tengah-tengah keluarga yang berkecukupan. Orang tuaku masih mampu mencukupi kebutuhan hidupku. Namun aku sadar aku belum bisa membanggakan mereka. Aku masih suka berdosa pada mereka. Mulai sekarang aku sadar, orang tuaku bekerja sekuat tenaga untuk membahagiakan anak-anaknya. Mama Papa maafin aku jika aku masih suka bohong, menuntut apa mauku, tak mendengarkan ucapan kalian. Aku belum bisa menunjukan hasil belajarku secara maksimal, namun aku berjanji di raport semesteran nanti aku akan membanggakan kalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.