Kisah-Kasih di Gumuh Singkalan

oleh Carmelita

Seperti yang dituliskan, akan selalu ada keindahan dibalik kesusahan. Aku percaya bahwa kalimat ini sepenuhnya benar setelah aku mengikuti live in yang diadakan oleh sekolah. Pada awalnya, aku sangat malas dan ingin tidak mengikuti live in bahkan aku merasa terpaksa mengikuti kegiatan ini. Bis untuk menuju Sukorejo saja sudah sangat tidak nyaman, apalagi bis tersebut tidak ber-ac, padahal perjalanan nya menghabiskan waktu 2 jam. Selain itu, kita perlu menaiki truk layaknya sapi untuk sampai ke desa masing-masing, jalannya tidak rata dan panas, saat itu kita membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke Dusun Gemuh Singkalan.

Setelah kita sampai disana, Aku dan Frida berkenalan dengan keluarga baruku. Baru melihat mereka saja aku sudah merasa bahwa keluarga ini sangat baik dan ramah, bahkan aku merasa keluarga baruku ini sudah seperti keluargaku sendiri. Keluargaku terdiri dari Ayah, ibu, dan 3 anaknya. Tetapi, Kedua anaknya sedang bekerja di luar kota. Mereka hanya bertiga di rumah. Ayahku bernama Bapak Albertus Utomo, Ibuku bernama Ibu Sisilia Suwartini, dan anak mereka yang pertama bernama Mas Ignatius Sutopo. Merekalah yang akan menjaga kita selama 5 hari. Lalu setelah itu, Ibu tini menyuruh kami untuk istirahat. Setelah aku memasuki kamarku, aku begitu kaget dengan apa yang kulihat. Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat banyaknya telur ular yang tertata rapi di dalam lemari kaca, kitapun bertanya kepada Mas Topo “Mas, ini telurnya menetas kapan?” Mas Topo menjawab “Masih lama kok, masih Desember”. Mendengar jawaban itu, kita pun lega. Tetapi kita lebih dikagetkan lagi setelah Mas Topo menunjukan hewan-hewan peliharaan nya. Hewan-hewan ini diletakkan di sebuah rumah dari kayu yang berada tepat di sebelah rumah yang aku tinggali ini. Sebelum kita masuk pun, ada seekor iguana yang menyambut kita. Di dalam ada banyak sekali ular yang diletakkan di lemari kaca. Mas Topo sangat menyukai ular, terutama ular berjenis piton. Di bagian belakang rumah, ada ribuan tikus putih yang di kembangbiakkan untuk menjadi santapan ular. Setelah selesai melihat-lihat kandang ular, kita mengobrol dengan Mas Topo. Mas Topo menanyai kita “Hobi kalian apa?”. Kita menjawab “Mainan hp dong”. Lalu, Mas Topo bercerita mengenai hobinya memelihara reptil. Dia bercerita bahwa dia belajar dari seorang temannya yang juga mengembangbiakkan ular, sejak saat itu dia menjadi senang memelihara ular sekaligus mengembangbiakkan nya lalu menjual anak-anak ular yang masih 3 bulan di pasar burung Semarang. Mas Topo juga memberitahu kita bahwa dalam hidup kita harus mempunyai hobi yang bisa menghasilkan uang, tidak hanya menghabiskan uang, jangan mempunyai hobi koleksi mobil atau handphone, karena mengoleksi handphone atau mobil tidak akan pernah ada habisnya. Lalu, aku sadar bahwa hal itu benar.

Di hari kedua, Aku dan Frida bangun jam 4 pagi, lalu membantu ibu menyiapkan sarapan. Setelah sarapan, ibu mengajakku panen cabai di kebun dekat rumah ibunya ibu yang berjarak hanya setengah kilometer saja. Kami melewati jalanan yang sangat becek dan penuh lumpur, setelah kita sampai di tempatnya, saya kira kebunnya berupa kebun yang besar, namun ternyata perkiraanku salah, kebun ini hanya seperti kebun rumah biasa. Hanya ada beberapa tanaman cabai disana. Bahkan, memanen cabai di sini tidak memerlukan tenaga dari banyak orang, cukup hanya satu orang. Aku berpikir dan melamun sambil memetik cabai. Hal itu berhenti ketika ada seekor serangga menempel di bajuku. Aku berteriak ketakutan, lalu semuanya melihat ke arah ku. Saat itu, aku merasa menyusahkan Ibu Tini. Di saat itupun aku sadar bahwa sikapku kepada mama tidak pantas disebut sempurna, bahkan aku sering membantah mama dan bersikap tidak sopan kepada mama. Padahal mama sudah merawat dan membesarkanku, aku sadar bahwa aku selalu menyusahkan dan tidak pernah membuat mama bangga.

Pada jam 4 sore, anak-anak dari Wilayah Gemuh Singkalan bagian atas turun ke wilayah bagian bawah. Kabarnya, terkadang banyak anak-anak dari desa belajar di gereja. Tugas kita adalah mengajari mereka. Ternyata betul kabar tersebut, banyak sekali anak-anak yang berkumpul disana. Saat itu, aku mengajari matematika untuk anak kelas 3. Aku merasa tertantang untuk mengajari anak ini karena anak ini tidak paham walaupun sudah dijelaskan dan diulang berkali-kali. Setelah itu karena kita sudah sama-sama stress, aku mengajarinya sebuah permainan yang biasa aku mainkan dengan teman-temanku di Semarang, tetapi dia juga tidak paham dengan cara permainan ini. Lalu, aku mengajarinya permainan lainnya yang bernama tic tac toe. Permainan ini dimainkan oleh 2 orang, Caranya sangat mudah, kita hanya perlu menggambar 9 kotak, setelah kita harus menentukan simbol milik kita seperti ‘o’ atau ‘x’. Setelah itu kita tinggal menaruh simbol-simbol tersebut dalam kotak yang disediakan secara bergantian dengan lawan kita, siapa yang bisa membentuk horizontal,vertikal, atau miring itulah yang menang. Untungnya anak ini bisa paham sehingga bisa bermain dengannya, tetapi saat itu aku dan teman-temanku harus pulang karena akan ada doa rosario jam 7. Kami pulang terlebih dahulu, lalu mandi dan berganti baju, setelah itu kita mengikuti doa rosario selama setengah jam, setelah itu ada snack-snack yang sengaja disajikan untuk kita menemani kita berbincang-bincang dengan teman-teman. Aku berbagi cerita dengan teman-temanku, salah satu temanku bercerita saat mengajari seorang anak matematika perhitumgan untuk anak kelas 1, anak tersebut menghitung menggunakan jari, tidak hanya jari tangan, tapi juga kaki, bahkan kaki temanku juga dipinjam untuk menghitung, spontan yang mendengarnya pun langsung tertawa. Bila aku amati, pendidikan di wilayah pedalaman masih sangat kurang, aku sungguh bersyukur karena aku dilahirkan di kota maju dengan keluarga yang berkecukupan.

Tidak terasa sudah hari ketiga, di hari ini aku bangun jam 6 pagi, setelah itu aku minum teh susu yang sudah disiapkan oleh Ibu Tini, setiap hari Ibu Tini selalu membuatkan kami teh susu, Ibu Tini juga sering sekali membuatkan kami pisang goreng, beliau juga suka membuat peyek, keripik, roti, sale pisang. Aku akui semua masakan Ibu Tini enak sekali. Apalagi semua itu terasa sangat enak ketika sedang menikmati udara pagi di pedesaan. Bayangkan saja meminum teh panas dan snack dengan udara sejuk dan berbincang-bincang dengan keluarga baruku. Ibu Tini bercerita bahwa dulu dia pernah bekerja di Malaysia selama 11 tahun untuk membiayai sekolah anak-anakya, Ibu Tini bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Beliau tidak pernah bersekolah, tetapi Ibu Tini nekat pergi demi biaya sekolah anak-anaknya. Ibu Tini tidak ingin anak-anaknya seperti dia. Dari cerita Ibu Tini ini membuatku sadar bahwa aku harus menghargai perjuangan orang tuaku yang telah menyekolahkan ku, aku sadar bahwa aku harus membanggakan orangtua ku dengan nilai bagus.

Lalu jam 3 sore, kami turun ke bagian bawah Desa Gumuh Singkalan untuk mengajar lagi. Hari ini aku mendapat anak perempuan kelas 1, Dia minta diajarkan huruf dan kosakata. Tetapi, sudah 1 jam aku ajarkan, dia tetap tidak paham dengan yang aku ajarkan. Aku sudah sangat bingung dengan cara bagaimana lagi supaya anak ini dapat paham. Lalu, aku sudah menyerah dan mengajak anak itu bermain. Kali ini anak ini yang menentukan jenis permainannya. Aku mengajak 3 temanku untuk ikut serta. Dan anak ini juga mengajak 3 temannya, jadi totalnya ada 8 anak. Kami melingkar lalu ada anak yang bertugas untuk berdiri di tengah. Lalu kami bernyanyi “Donald bebek mundur lima langkah, satu,dua,tuga…”. Karena permainan ini aku menjadi ingat di saat aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Sungguh permainan yang lucu dan menggembirakan. Di saat sudah waktunya untuk pulang, turunlah hujan rintik-rintik. Tetapi kita tetap harus kembali ke atas karena akan ada doa Rosario. Saatkita sudah sampai di rumah masing-masing, aku dan temanku merasa lemas dan pusing. Lalu, kami memutuskan untuk tidak mengikuti doa Rosario. Pada jam 7, Ibu Tini dan Pak Utomo pergi untuk doa Rosario. Sesaat setelah Ibu Tini dan Pak Utomo pergi, lampu di rumahku mati, spontan aku dan Frida sangat bingung sekaligus ketakutan, kami berteriak “Ibuuuu!! Bapakkk!!” sekeras-kerasnya supaya mereka mendengar, syukurlah mereka belum jauh dari rumah sehingga kami terselamatkan. Ibu dan Bapak pulang lalu mengambilkan kami senter. Setelah itu, Bapak Utomo dan Ibu Tini pergi lagi. Tetai sesaat setelah itu, Bu Tini kembali ke rumah. Lalu aku tanya “lho bu kok pulang kenapa?” Ibu menjawab “gapapa, nemenin kalian aja”. Sungguh baik hatinya Bu Tini. Saat mati lampu, banyak sekali serangga yang berdatangan, aku yang ani-serangga ini berteriak ketakutan. Tidak terhitung berapa kali aku teriak, sampai besoknya aku sakit tenggorokan dan suaraku menjadi habis.

Besoknya, acara kami adalah acara perpisahan, tidak terasa sudah 4 hari di Desa Gumuh Singkalan yang indah dan tentram ini. Berkat Live in ini aku bisa mengenal teman-temanku dari kelas lain, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan yang terutama aku bisa mendapat pelajaran hidup yang berharga yang bisa aku pegang sampai aku tua. Jam 5 sore kami menuju gereja, setelah itu ada pidato dari Pak Djarot, dan kami diberi kesempatan untuk berbagi cerita dengan teman-teman. Setelah itu, kami diberi soto dan tempe. Soto ini ternyata buatan Ibu Tini, pantas rasanya enak sekali. Di Malam terakhir ini, kami diberi kesempatan untuk berkumpul dan makan bersama keluarga masing-masing. Jam sudah menunjukan pukul setengah 9,sudah saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Inilah pengalaman pertamaku berjalan menanjak di jalan yang tidak ada penerangan nya sama sekali, sungguh sangat gelap gulita. Tetapi semua pengalaman ku di live in adalah pengalaman yang tidak akan aku lupakan dan akan aku ingat seumur hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.