SEKOLAH, RUMAH BUDAYA

oleh : Yohanes Marino

sekolah bukan hanya sekadar tempat bertemunya guru dan murid, tetapi lebih kepada tempat dan rumah di mana budaya suatu bangsa itu berkembang dan menyebar luas.

 

Berpegang teguh pada keyakinan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia muda, siapa pun dan dari mana pun mereka berasal, sudah seharusnya pendidikan menyediakan pengalaman dalam bentuk yang paling nyata yang pernah ada. Sekolah seharusnya menjadi tempat dimana anak mengalami pengalaman yang berharga selama hidupnya. Jikalau di dalam kitab suci ada tertulis bahwa dua sampai tiga orang yang berkumpul atas nama Tuhan, maka disitu pulalah Gereja berdiri. Dengan menggunakan kredo ini, kita pun dapat mengatakan bahwa dua sampai tiga orang berkumpul, bertanya, mengusahakan dan mengalami jawaban atas pertanyaan tersebut, maka sekolah tersebut berdiri. Tetapi sekali lagi, sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yang compang-camping, maka dari itu, kita kehilangan daya yang sebenarnya sudah ada sedari Ki Hadjar Dewantara membentangkan ideologi besar pendidikan dalam ing ngarso sung tuladha ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.

Sekolah, Rumah Budaya

Berpegang teguh pada landasan pendidikan yang sudah dicanangkan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Pater Drijarkara, sudah layak dan sepantasnya pula sekolah menjadi sebuah rumah bagi segala kebudayaan yang ada. Sudah seharusnya sekolah menjadi wadah bagi budaya apapun yang ada di negeri ini, yang katanya adalah Negara dengan kekayaan budaya terbesar di dunia. Tetapi ketika sekali lagi kita melihat langsung ke akar rumput, kita akan menemukan bahwa sekolah sudah beralih fungsi menjadi hanya sekadar rumah dan tempat dimana pelajar dan guru bertransaksi ilmu. Yang seharusnya menjadi perhatian adalah terjadinya pengurangan makna atau peyorasi dalam arti sekolah itu sendiri. Sekolah sudah mengalami penurunan makna menjadi tempat berdagang ilmu, bukannya menjadi rumah budaya itu sendiri.

Pernyataan seperti ini didapat dari sebuah kesimpulan yang sangat sederhana. Peserta didik dalam sebuah institusi pendidikan atau satuan pendidikan, sekarang sudah mulai tidak tertarik untuk membicarakan hal-hal di luar sekolah secara umum. Mereka lebih memiliki fokus mengenai materi-materi yang ada di dalam buku pelajaran. Hal ini diperburuk pula oleh tindakan beberapa guru yang kadang juga tidak memberikan konteks nyata terhadap materi yang diajarkan mereka di dalam kelas. Beberapa dari mereka justru kehilangan budaya nyata yang sebenarnya sudah ada dan mengalir dalam diri mereka. Mereka terpaku dan hanya fokus terhadap buku-buku pelajaran yang mungkin dapat dikatakan tidak dapat mewadahi budaya Indonesia yang sangat beragam.

Berapa banyak murid di Indonesia yang gagal paham dalam perjalanan mereka memahami budaya Indonesia. Pada akhirnya mereka pula berusaha menyeragamkan pola pikir mereka. Di dalam kelas, mereka diam. Lantas, dimanakah budaya tersebut dapat dibangun jikalau mereka harus berpikir secara seragam di dalam kelas? Budaya baru akan berkembang apabila siswa dapat menghasilkan produk-produk yang dihasilkan baik secara lisan ataupun tulisan. Tetapi yang kita saksikan di akar rumput dunia pendidikan adalah pembunuhan budaya secara perlahan dan pasti. Pembunuhan budaya ini dilakukan atas nama kedisplinan. Lantas, di manakah peran sekolah yang seharusnya menjadi rumah budaya bagi siapapun yang berada di dalamnya?

Mengembalikan Jiwa Budaya

Budaya erat berhubungan dengan makna-makna kehidupan. Jikalau sekolah ingin mengembalikan jiwa budaya, maka usaha yang harusnya dilakukan oleh sekolah adalah mengajak peserta didik dalam berproduksi mencari makna. Produk makna ini dapat berupa karya sastra dan bentuk cerita dan ini pula dapat menjadi jalan bagi sekolah untuk membuka dan mengembalikan jiwa budaya kembali ke dalam tubuhnya. Peserta didik yang selama ini bungkam, baik pula kita ajak untuk membuka mata dan mendengarkan sekitarnya. Baik pula peserta didik diberi kesempatan untuk mencari makna dari pengalaman kehidupan yang senyatanya.

Pemerintah sudah mulai berusaha untuk mengembalikan jiwa budaya kembali ke dalam sekolah yang senyatanya. Melalui program literasi yang mulai dicanangkan di sekolah, pemerintah mulai membuka jalan terhadap kebudayaan. Dengan membaca buku, diharapkan satuan pendidikan di Indonesia mampu untuk mengembalikan jiwa budaya yang sudah lama hilang. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnya kita kembali ke kredo awal di mana sekolah bukan hanya sekadar tempat bertemunya guru dan murid, tetapi lebih kepada tempat dan rumah di mana budaya suatu bangsa itu berkembang dan menyebar luas. Akhir kata, marilah kita mengembalikan jiwa budaya yang hilang ke dalam tubuhnya, Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

———–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.