Kenapa PR dikerjakan “di Sekolah” ?

Pergi kesekolah pagi-pagi atau lebih awal dan heboh bertanya kepada teman siapakah yang sudah selesai mengerjakan tugas atau PR.

Ni adalah kenyataan yang terjad di sekolah pada umumnya. Ada begitu banyak anak yang memiliki kebiasaan mengerjakan PR di sekolah dengan berbaga alasan.

PR merupakan tugas yang diberikan pada pelajar oleh guru sekolah untuk dikerjakan di luar sekolah. Alasan pemberian PR adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi-materi yang telah diajarkan oleh guruPR adalah alat untuk mempercepat langkah perolehan pengetahuan. PR dipercaya menjadi arti penting bagi kedisiplinan ingatan murid.

Mengerjakan PR secara keseluruhan atau menyelesaikan yang tersisa di sekolah, menyebabkan mereka kehilangan waktu berharga di awal masuk kelas. ini berpengaruh besar terhadap kegairahan mereka belajar pada jam-jam berikutnya. Perhatian mereka telah banyak terenggut untuk mengerjakan PR yang tersisa atau  bahkan mengerjakan sepenuhnya di kelas.

Di dalam kelas ketika pelajaran siswa yang mengerjakan PR ketika disekolah akan sangat kawatir jika suatu saat ditanya oleh guru dan ia ketahuan masih mengerjakan PR maka akan dimarahi, atau ia akan cemas kalau kalau nanti ditanya guru dan tdak bisa menjawab. Kalau mamu perhatian penuh ke pelajaran ia kawatir PR tidak selesai dan akan menerima sanksi. Maka siswa tersebut akan tidak dapat menerima pelajaran dengan baik.

Jika siswa tidak dapat mencerna pelajaran dengan baik, maka ia pun akan kurang bergairah mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Dan ini membawa akibat  berkelanjutan yaitu motivasinya akan turun dan semangatnya belajar juga akan turun. Termasuk ketka mengerjakan tugas akan cebderung berpikiran yang penting selesai. Akibat lebih lanjut pada prestasinya yang kemudian akan ikut turun.

Penjelasan ini menegaskan sekali lagi bahwa memotivasi anak sama sekali tidak cukup hanya dengan memberi mereka training motivasi. Training motivasi yang hebat tidak akan memberi manfaat apa-apa jika hal-hal yang menyertai belajar anak diabaikan oleh guru. Sebaliknya, tanpa memberi mereka training motivasi sama sekali, jika pengelolaan kelas, strategi  penyampaian materi pelajaran, iklim kelas dan budaya sekolah  diperhatikan dengan baik, maka anak-anak itu akan memiliki motivasi belajar.

Maka para guru sebaiknay memberi penekanan kepada para siswa agar PR selalu dikerjakan di rumah agar ia juga dapat mengingat kembali materi pelajaran disekolah dan juga dapat belajar dengan baik. Selain itu jka memungkinkan maka guru juga bisa memberi penjelasan tentang PR kepada para siswanya atau setidaknya dalam memberi penilaian tidak hanya melihat hasil tugasnya tetapi juga sampai pada proses penyusunannya.

Oleh: Herybertus Virgo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.