Sharing Guru: Mukjizat itu Masih Ada

Suatu ketika saya ditawari Sr.Stella Maris mengajar di suatu SMA. Saya mau asal sudah lulus dari IKIP Sanata Dharma.

Setelah lulus tahun 1984. saya coba cari SMA itu di semarang, ternyata namanya SMA Sedes Sapientiae. Awalnya agak kaget karena anak didik puteri semua. Meski puteri semua tetapi tidak manja, tetap disiplin dalam segala aturan.

Bila hari Sabtu Sr.Stella,  selaku kepala sekolah , sudah berdiri di gerbang sekolah. Beliau menyapa anak didiknya dengan bahasa Inggris. Bila murid-murid tidak bisa memberi respons dengan benar,  kuping jadi sasarannya. Tetapi beliau melakukannya dengan kasih. Bahasa Inggris menjadi bahasa kedua bagi SMA Sedes Sapientiae sesudah bahasa Indonesia sejak dulu.

Mulai tahun 1990 Sedes  menerima anak didik puteri dan putera.

Ternyata peminat jurusan IPS lebih banyak dari IPA. Pada waktu itu penjurusan dilakukan di kelas II SMA , sekarang kelas XI,  tentu saja dengan kriteria tertentu. Hal ini mengakibatkan ada beberapa siswa yang ingin masuk ke jurusan IPA tetapi terpaksa masuk jurusan IPS karena tidak memenuhi persyaratan. Dari beberapa siswa itu salah satunya Slamet. Walau pun dia di jurusan IPS tetapi sangat ingin melanjutkan pendidikan ke jurusan  teknik sipil.

Keinginannya  begitu kuat. Hampir setiap waktu istirahat Slamet tanya soal fisika kepada saya.Tadinya saya kira hanya bercanda, karena dia jurusan IPS. Ternyata dia serius. Hampir tiap hari minta diajari fisika. Dengan suka rela saya ajar dia secara singkat hingga lupa istirahat.

Slamet lulus SMA dengan nilai tak terlalu istimewa.  Dia langsung mendaftar UNDIP jurusan teknik sipil berjuang bersama siswa jurusan IPA. Pada tes masuk, dia optimis bisa mengerjakan.  Semangatnya luar biasa. Saya hanya bisa mendoakan agar dapat diterima, seperti apa yang dia impikan.  Bersyukur dia dapat masuk UNDIP.

Meski sudah menjadi mahasiswa kadang Slamet masih mampir ke SMA Sedes tanya soal Fisika, dengan senang hati saya meladeni.

Tahun kelima Slamet membawa kabar menggembirakan, dia lulus cumlaude. Anak ini berbakat IPA, meski Slamet dari IPS, mukjizat masih ada.

Beberapa hari lalu, dia ke SMA Sedes Sapientiae ingin ketemu, dia sudah jadi pemborong bangunan. Dan anaknya ternyata dia titipkan dalam asuhan guru-guru SMA Sedes Sapientiae yang dia percayai dan dia hormati.

Terimakasih SMA Sedes, katanya. Ketika saya ajak bersalaman, tangan kanannya tak punya daya sama sekali. Saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan Yesus memberi mukjizat kembali, karena Tuhan Yesus adalah Tabib Ajaib bagi kami, dan Dia dokter di atas segala dokter. Pasti mukjizat masih ada.Semoga lekas sembuh Slamet.   (Hb.Ermawan Ruwanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.