Kemah Pramuka kelas X : MEMBANGUN KARAKTER SEDESIAN MELALUI KEMAH PRAMUKA

Ketika siswa kelas XII mengikuti USBN, 276 orang siswa kelas X  mengikuti kegiatan kemah, tepatnya tanggal 19 s.d. 21  Maret  2018 di kompleks KOLAT/ KODAM IV/ DIPONEGORO  Bantir Sumowono.

Bp. Anton, salah satu guru pembina menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk  memberikan pencerahan bagi para peserta didik dalam upaya peningkatan kualitas SDM, khususnya berkaitan dengan materi keterampilan kepramukaan dan pengembangan  kemandirian serta kepemimpinan pribadi. Melalui kemah ini diharapkan dapat memberikan wahana berkomunikasi dan bertukar pengalaman (brainstoorming) bagi para peserta didik dalam mengaplikasikan keterampilan kepramukaan. Selain itu, kegiatan kemah bertujuan meningkatkan wawasan peserta didik dalam menguasai, mengaplikasikan, mengembangkan dan melakukan inovasi  materi ajar keterampilan kepramukaan.

Sesuai dengan tujuan tersebut maka kegiatan  kemah kepramukaan tahun ini, mengambil tema  : Meraih Kemenangan diri Menjadi Pramuka yang Bijaksana ”. Penjabaran tema itu diproses dalam materi : PBB, Caraka Malam, Survival, Api Unggun, Outbond dan Refleksi. Tim pemateri ada tujuh orang, mereka dari unsur TNI yang dipimpin oleh Serma Fitri dari Kwarcab Kota Semarang dan Dewan Kerja Ambalan (DKA) Kwarcab Kota Semarang. Sementara ada pula tujuh guru pembina dengan koordinator Bp. Agung, dibantu oleh 29 orang DKA SMA Sedes Sapientiae.

Ada beberapa peserta didik yang menyatakan diri sakit. Ketika diberi izin untuk beristirahat, ngrumpilah mereka dengan serunya. Tentu penyelenggara punya cara untuk mendisiplinkan mereka. Misalnya, mereka tetap dilibatkan dalam kegiatan Caraka Malam namun dengan  rute yang lebih singkat. Tidak hanya itu, mereka juga harus ambil bagian dalam  kegiatan survival yang justru membuat mereka sadar akan pentingnya memperoleh pengalaman dalam suatu proses kegitan bersama. Pada hari berikutnya tidak ada lagi peserta didik yang mengaku sakit supaya tidak ikut kegiatan.

“Acara dijadwalkan dengan sangat padat yang membuat setiap peserta melibatkan diri di dalamnya. Namun demikian tidak ada satu pun peserta yang merasa terpaksa mengikuti setiap mata acara karena selalu ditekankan oleh Tim Pemateri untuk dapat mengukur kemampuan diri secara fisik. Saking padatnya acara, peserta tidak mendapat kesempatan untuk melakukan hal-hal iseng yang mengundang bahaya. Sampai akhir acara semua berjalan baik,” ujar Ibu Lilis, guru pembina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.