GERAKAN LITERASI SEKOLAH

MELIHAT DARI SISI  LAIN

                Christabel Valeri X MIPA 1

 

Judul Buku                          :  Laut Bercerita

Penulis                                 :  Leila S. Chudori

Penerbit                              :  KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun Terbit                      :  2017

Jumlah Halaman               :  379 halaman

Cetakan Ke-                       :  2

 

Resume

Buku ini bercerita tentang kehidupan Biru Laut yang berperan sebagai aktivis mahasiswa yang berani membela yang benar dan menentang yang salah. Berlatar belakangkan pemerintahan Presiden Soeharto, banyak konflik yang dikisahkan. Mulai dari demo massal sampai dengan penyiksaan tanpa akhir.

 

Biru Laut, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, Naratama. Itu adalah beberapa nama mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Winatra. Mereka harus terus berpindah tempat dari waktu ke waktu untuk menghindari kejaran “anjing anjing” pemerintah yang terus mengejar mereka. Pun harus berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain.

 

Akhirnya terendus juga dimana mereka bersembunyi. Laut, Daniel, dan Alex ditangkap dirumah persembunyian mereka di Klender oleh Pasukan Elang. Selama ditahan, mereka terus disiksa tanpa henti. Disetrum, dibiarkan berbaring di atas es, disiram air tanpa henti. Semua hanya demi menjawab satu pertanyaan : siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

 

Asmara Jati, adik Biru Laut, terus mencoba mencari jejak mereka yang hilang melalui Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin oleh Aswin Pradana, dan juga merekan testimoni mereka yang kembali.

 

Anjani, kekasih Laut, yang adalah seorang seniman, merasakan kehilangan yang teramat sangat atas hilangnya Laut. Sosok yang awalnya ceria dan bersemangat, berubah menjadi sosok yang lemah, lesu, tidak banyak bicara, bermuram durja setiap harinya.

 

Orang tua Laut, yang juga merasakan kesedihan yang teramat sangat dalam atas hilangnya anak laki laki pertama mereka, masih hidup dalam bayang-bayang Laut. Mereka tidak bisa menerima kenyataan tentang hilangnya Laut, masih berharap dapat menemui anak sulung mereka mengetuk pintu rumah, datang untuk melakukan tradisi mereka setiap akhir pekan, memasak dan makan malam bersama.

 

Setelah melewati tahun-tahun yang sulit atas hilangnya anak- anak, kerabat, kekasih, suami, keluarga , mereka mendapat sebuah berita yang mau tidak mau harus mereka terima bahwa anggota keluarga dan orang  dekat  yang hilang, kemungkinan besar, sudah meninggal. Dengan hati yang amat sangat berat,mereka akhirnya hanya bisa mengikhlaskan kepergian orang orang yang mereka sayangi.

***

 

Setelah membaca buku “Laut Bercerita” saya,  sebagai bagian dari generasi yang tidak mengalami zaman tersebut, bisa memahami sebagian kecil dari kerasnya zaman itu. Betapa kebenaran sangat tidak dihiraukan pada zaman itu. Tidak banyak orang yang berani melawan pemerintah jika tidak ingin mendekam di penjara atau bahkan mati dibunuh. Bahkan para mahasiswa yang berjuang membela kebenaran, bisa disiksa demikian kejamnya karena mereka dianggap melawan pemerintahnya.

Sastra pun dibungkam. Sastra yang adalah seni berekspresi digunakan oleh banyak sastrawan sebagai sarana untuk menyuarakan pendapat dan isi hati mereka terhadap kejamnya rezim pemerintahan waktu itu.  Akibatnya, Pemerintah ingin memusnahkan perkembangan karya sastra karena dianggap sebagai virus

 

Buku ini juga membawa saya untuk melihat zaman itu dari sudut pandang lain. Pemerintahan yang dianggap baik, yang mengenakan topeng yang menawan. Presiden yang memiliki banyak pendukung, ternyata menyembunyikan kebusukan yang sangat. Di balik ketidaktahuan masyarakat, ternyata banyak tindakam tindakan kejam yang dilakukan aparat pemerintah. Mereka yang menyiksa, memaksa, bahkan membunuh para anggota masyarakat yang dianggap berbahaya bagi pemerintahannya. Betapa sebuah bangsa yang sudah merdeka tidak lepas dari berbagai gejolak dan konflik untuk mempertahankan keberadaannya.

 

Leila S. Chudori, penulis buku ini, melakukan berbagai riset untuk penyempurnaan novel ini. Ia sudah melakukan wawancara dengan berbagai sumber yang pernah mengalami kejadian tahun ini. Mereka yang kembali dari penyiksaan, mereka yang menjadi saksi atas kejamnya zaman itu. Semua hal yang diceritakan dalam novel adalah fiksi. Tapi dengan bantuan para nara sumber, novel fiksi ini bisa bernyawa. Bisa menceritakan dengan baik tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik topeng menawan yang dikenakan oleh para anggota pemerintahan.

Mengapa saya memilih buku ini ?

Cover novel ini menarik. Cover yang menggambarkan akhir hayat Biru Laut, dengan gambaran yang real tentang kedalaman laut, menarik perhatian saya saat pertama melihatnya.

Selain itu, karena sinopsisnya memunculkan rasa ingin tahu yang lebih. Bagi saya, ini pertama kalinya, saya menemukan novel yang dengan berani dan gamblang menceritakan tentang kekejaman pemerintah pada zamannya. Dengan bahasa yang lugas, sinopsis menuliskan tentang penderitaan yang dialami Biru Laut dan kawan kawannya. Dan lagi, sinopsis dapat menggambarkan kedukaan yang dialami keluarga atas peristiwa yang dialami oleh mereka yang terkasih. Kisah keluarga yang sangat kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan ketakutan setiap saat, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang terus mencari kebenaran makam anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur adalah hal hal yang disebutkan dalam sinopsis novel ini. Itulah yang membuat saya tertarik untuk membaca lebih dalam novel ini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.