Mengenal dan Menghidupi Persaudaraan dengan Alam Semesta

oleh: A. Agung Prasetyo W, S. Si

Hai sedesian dimanapun kalian berada. Salam Fratelanza……

SMA Marsudirini Sedes Sapientiae mengisi kegiatan setelah penilaian akhir semester dengan berbagai macam kegiatan salah satunya adalah rekoleksi sehari. Kegiatan ini dilaksanakan untuk kelas X, XI dan XII pada tanggal 7, 10 dan 11 Desember 2018 yang lalu. Tahun ini rekoleksi sehari mengambil tema “Mengenal dan menghidupi persaudaraan dengan alam semesta”.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai salah satu bentuk refleksi iman sekaligus melaksanakan visi sekolah yaitu mengembangkan pribadi yang cerdas, beriman pada Tuhan, mencintai sesama dan alam ciptaan-Nya. Melalui kegiatan ini para siswa diperkenalkan dengan pandangan gereja kaitanya dengan kesadaran ekologis yang dituangkan dalam ensiklik Laudato Si.

Sesi yang pertama mengajak para siswa untuk memahami konteks bumi sebagai “rumah kita” bersama. Semua mahkluk mendiami bumi rumah kita bersama, maka setiap mahkluk termasuk manusia memiliki peran dan tugas dalam melestarikan dan merawat bumi rumah bersama ini. Dalam sesi ini para siswa mencoba melihat bagaimana kondisi bumi rumah kita saat ini. Kerusakan alam yang terjadi akibat ulah manusia. Bumi, udara dan air sebagai komponen utama bumi rumah kita sudah tercemar, akibatnya kualitas hidup manusia semakin merosot. Apa akar masalah semua ini? Tak lain dan tak bukan adalah keegoisan manusia dalam menggunakan teknologi untuk mengekploitasi alam karena adanya nafsu untuk berkuasa atas semua mahkluk.

Sesi yang kedua mengajak para siswa untuk merefleksikan kegiatan-kegiatan mereka sebagai seorang pelajar dalam menghidupi persaudaraan dengan alam semesta. Melalui kisah penciptaan dari kitab kejadian dan spiritulitas Fransiskus yang dituangkan dalam kidung saudara matahari kita semua diajak untuk mereposisi kembali kedudukan kita di alam semesta ini. Dalam kitab kejadian manusia diminta untuk “berkuasa” atas bumi ini. Kuasa yang dimaksudkan disini adalah menjaga dan memelihara bukan untuk mengeksploitasi alam ini. Manusia berasal dari tanah, hidup dengan mengolah tanah dan saat mati akan kembali ke tanah, maka tanah adalah bagian dari diri kita. Maka seperti ditegaskan oleh Santo Fransiskus Asisi kita adalah saudara bagi semua mahkluk.

Rekoleksi ini diakhiri dengan mencoba mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan sekolah berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup. Bersama dengan wali kelas para siswa merumuskan niat bersama untuk melakukan pertobatan ekologis dengan cara membangun niat baru dalam usaha menjaga keutuhan ciptaan. Karena pada dasarnya akar dari semua adalah dosa maka setiap relasi yang rusak akibat dosa harus dikembalikan lewat pertobatan dan aksi nyata. Semoga lantunan kidung saudara matahari yang menutup seluruh kegiatan rekoleksi sehari semakin menyadarkan bahwa kita adalah saudara. Berkah Dalem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.