MELIHAT CINTA YANG AGUNG DALAM TRADISI TRANSITUS ST FRANSISKUS

Oleh: Paulus Bambang TS. S.Pd

https://catatanseorangofs.wordpress.com/2010/09/30/kematian-santo-fransiskus-dari-assisi-sebuah-catatan-singkat-untuk-permenungan-pribadi/

“Transitus adalah sebuah tradisi para fransiskan yang berasal dari bahasa Italia “Transito” yang memiliki arti peralihan Transitus merupakan masa peralihan dari kehidupan yang lama menuju kehidupan baru. Secara teologis, transitus dapat dikatakan juga merupakan masa peralihan dari kehidupan dunia ke kehidupan surgawi yang dikenal dalam iman.

Para fransiskan dan fransiskanes merayakan transitus sehari sebelum perayaan wafatnya St Fransiskus Assisi tanggal 4 oktober. Mereka merayakan dalam bentuk ibadat dalam komunitas-komunitas dan permenungan yang biasanya diambil dari beberapa pokok penting dalam hidup Bapa Fransiskus Asisi. Transitus ini adalah sebuah peristiwa cinta yang agung. Para fransiskan dan fransiskanes mengenang kembali dan merenungkan cinta St. Fransiskus Assisi kepada Yesus Kristus yang tersalib. Dalam puncak cintanya, Bapa Fransiskus tidak memandang kematian sebagai sebuah kengerian, tetapi sebuah peristiwa datangnya saudari maut yang akan mengajaknya menemui sang cinta sejati yaitu Yesus Kristus. Di dalam cinta segala sesuatu menjadi indah karena di dalamnya Allah hadir (bdk 1 yoh 4:8). Santo Fransiskus mencintai semua ciptaan yang ada di alam semesta karena  ia begitu dekat dengan Allah dan mencintaiNya dengan sepenuh hidupnya. Peristiwa transitus membuktikan hal ini, dimana bahkan sang maut pun dicintai oleh Santo Fransiskus.

Santo Fransiskus dikaruniai Lima luka suci yang mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa pada tubuh Fransiskus dua Tahun sebelum kematiannya, Yaitu setelah berdoa di dalam kesunyian bukit La Verna pada awal September 1224. Di tempat ini Franasiskus berdoa “Tuhanku Yesus Kristus, saya mohon kepada-Mu karuniakanlah dua anugerah sebelum saya meninggal.  Pertama ialah agar Kau izinkan merasakan – dalam jiwa ragaku – sebanyak mungkin penderitaan hebat yang Engkau, Yesus Yang Manis, telah rasakan pada saat sengsara-Mu yang amat pahit itu. Kedua ialah agar saya boleh merasakan dalam hatiku sebanyak mungkin cinta yang tak terbatas, dengan mana Engkau, Putera Allah, tergerak dan mau menanggung sengsara sedemikian itu bagi kami para pendosa”.

Santo Fransiskus merasakan bahwa Saudari maut sudah sangat dekat, kemudian Ia meminta para saudara dina melepaskan semua jubahnya dan berbaring di lantai tanpa alas agar dapat menyerupai Kristus di kayu salib yang sedang menghadapi maut. Fransiskus kemudian minta kepada para saudara dina untuk membacakan baginya kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus dari Injil Yohanes. Lalu, dengan tangan-tangannya yang menyilang di dada, Fransiskus memberkati semua anak-anak rohaninya. Dia mulai mendaras Mazmur Daud bersama anak-anak rohaninya itu: “Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN”, dan menyelesaikan mazmur itu sampai akhir: “Orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku” (Mzm 142:2-8; lihat 1Cel 109; LegMaj XIV:5).

Tradisi transitus ini semakin menunjukan betapa besarnya cinta Santo Fransikus kepada Yesus Kristus yang membuat Ia mampu mengalahkan rasa sakit dan penderitaannya. Melalui peristiwa ini kita diajak untuk berani hidup di dalam cinta Bersama Allah. karena dengan demikian kita mampu untuk melihat semua kepahitan hidup ini dengan rasa syukur dan tetap sukacita. Sekalipun beban yang kita tanggung berat, sekalipun kita harus menerima penolakan atau mungkin amarah dan kebencian dari orang lain. Tetapi, selama kita berada di dalam cinta bersama Allah seperti Bapa Fransiskus kita akan mampu melihat semuanya itu dalam kaca mata syukur.

Referensi: