“Ga Bisa Bahasa Inggris”, Pentingkah untuk Bisa?

Penulis : Marco Antonio Jose Yohanes

Bahasa Inggris, seperti yang telah diketahui, adalah bahasa yang mengkoneksikan dan menjadi basantara dunia hari-hari ini. Secara data, hal tersebut terbukti nyata adanya, sekitar 1,35 miliar, sekitar 20% dari jumlah keseluruhan penduduk bumi memiliki kapabilitas untuk berbicara dalam Bahasa Inggris, hal ini menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling banyak dipelajari di muka bumi ini karena krusialitas yang dimilikinya. Krusialitas Bahasa inggris terejawantahkan dalam nyaris seluruh bidang yang eksis pada masa kini, mulai dari ekonomi, budaya, politik, hingga bidang yang wajib digeulti oleh anak muda, edukasi. 

Edukasi menjadi modal bagi anak-anak bangsa untuk menggapai masa depan sesuai cita dan asa. Salah satu elemen dari edukasi adalah literasi yang dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami, mencerna dan mengolah informasi dalam proses membaca dan menulis. Bahasa Inggris sebagai basantara tentunya berkontribusi dalam pengembangan dan kemajuan pendidikan anak-anak Indonesia secara umum dan literasi secara khusus. Bagaimana bahasa dapat menjadi kontributor penting dalam tujuan kita memajukan pendidikan?

Pertama-tama, sebagai pendahulu, Bahasa Inggris bukan merupakan bahasa ibu kita karena Bahasa Indonesia lah yang menempati tersebut. Oleh karena itu, dengan memiliki kapabilitas berbahasa asing, termasuk Bahasa Inggris, maka anak sudah dapat dikatakan sebagai bilingual speaker

Selanjutnya, menyambung faedah Bahasa Inggris sebagai basantara, tentu acap kali kita temui baik itu artikel, berita, buku dan lain sebagainya yang mengandung muatan edukatif yang disajikan dalam Bahasa Inggris. Berdasarkan hal tersebut, dengan memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, anak dapat menyerap jauh lebih banyak informasi, wawasan serta teredukasi dari sumber-sumber yang bersifat internasional dan dalam jumlah yang lebih banyak.

Berkaitan dengan buku, tentunya kita sudah tidak asing lagi bahwa minat baca bangsa Indonesia berada pada titik yang tidak baik. Salah satu penyebabnya adalah minimnya buku yang dapat dibaca. Menurut Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, rasio buku per penduduk di Indonesia adalah 0.09, atau dalam jumlah yang lebih riil, diperkirakan ada 25 juta buku untuk 270 juta penduduk Indonesia. Miris pastinya melihat jumlah yang demikian sedikitnya untuk penduduk yang amat banyak di Indonesia. Apabila tidak ada buku yang bisa dibaca, pantas saja bahwa posisi minat baca kita berada pada level yang cukup rendah. 

Selain dari jumlah, isi dari buku juga penting diperhatikan. Tak dapat dipungkiri bahwa memang buku yang bersifat internasional dan sudah dipublikasikan di berbagai negara tentu memiliki kualitas yang teruji. Buku-buku tersebut acap kali masih belum terdapat versi terjemahan bahasa Indonesianya. Sebut saja judul buku-buku papan atas pemasaran seperti Purple Cow, This is Marketing juga buku-buku tentang kepemimpinan seperti Winning tulisan Jack Welch bahkan buku favorit Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sekarang, Bapak Nadiem Makarim, How Children Succeed tulisan Paul Tough masih belum tersedia dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia.  Oleh karena itu, kita wajib menguasai bahasa Inggris dalam upaya menjaga kompetensi inteligensi untuk menghadapi kompetisi global dengan membaca buku sebagai salah satu cara dan ikhtiar kita. 

Berdasarkan fakta-fakta yang ironis namun tak dapat ditampik tersebut, sebagai anak muda yang solutif, Bahasa Inggris dapat menjadi solusi kita mengatasi hal tersebut. Dengan menguasai Bahasa Inggris, seseorang tidak harus bergantung pada jumlah buku, jumlah artikel dan/atau media berliterasi lainnya yang beredar di Indonesia karena dapat membaca serta mengerti buku, artikel, video dan lain sebagainya yang berasal dari luar negeri. Dengan demikian kita tetap dapat berliterasi dan mengambil segala manfaat yang ada dalam berliterasi kendati terdapat halangan kesulitan mencari buku di Indonesia.

Bahasa Inggris juga amat membantu siswa dalam mendapatkan banyak pandangan-pandangan baru dari orang luar. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, saya banyak terbantu mendapatkan paham-paham filosofis, materi-materi pemasaran serta hal-hal edukatif lainnya dari kanal-kanal YouTube orang-orang asing. Karena jelas bahwa mereka tidak dapat berbahasa Indonesia, maka Inggris menjadi penghubung saya untuk memahami dan kemudian mengejawantahkan hal-hal yang saya pelajari dalam kehidupan saya sehari-hari dan/atau menjadikannya pembelajaran yang amat berarti. Bahasa Inggris juga berperan banyak bagi saya dalam mendapatkan perspektif-perspektif baru dalam hal-hal yang bersifat religius, politis dan kemanusiaan dari masyarakat negara-negara lain yang memiliki bahasa ibu berbeda dari saya, seperti Belanda dan Jerman, yang rata-rata penduduknya juga memiliki level kecakapan berbahasa Inggris baik. Pandangan-pandangan tersebut pastinya banyak membantu dalam proses seorang siswa dapat berpikir kritis menghadapi berbagai macam isu dan bersikap dewasa serta tidak gegabah menanggapi situasi-situasi dinamis dan genting dalam kehidupan beragama, berpolitik, berkemanusiaan dan lain sebagainya.

Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang memadai, seorang siswa praktis telah terbuka jalannya untuk mempelajari hal-hal lainnya pula. Seperti mempelajari bahasa-bahasa asing lain yang tidak kalah penting seperti Mandarin, Spanyol dan Jerman, secara gratis di internet yang kebanyakan sumbernya menggunakan Bahasa Inggris. Juga belajar soft skills seperti make-up, memasak dan lain sebagainya dari internet menggunakan Bahasa Inggris untuk mendapatkan sumber yang lebih luas. Bahasa Inggris mampu menjadi alat bagi siswa-siswi untuk membuka jalan mereka dengan lapang menuju dunia yang lebih luas, bahkan menuju ke hal-hal yang mereka sebelumnya tidak pernah terpikirkan dapat dipelajari dengan mudah dan bahkan gratis. 

Sehubungan dengan kemahiran menguasai bahasa lain, mempelajari Bahasa Inggris, yang mana bukanlah bahasa ibu masyarakat Indonesia, dapat dijadikan modal baik untuk perkembangan otak anak. Menurut para neurologis di Elon Institute, proses pembelajaran bahasa baru (asing) memaksa otak manusia agar dapat memahami pola-pola bahasa baru dan menerapkannya. Hal tersebut mampu memberikan banyak kelebihan kognitif seperti meningkatkan kemampuan berpikir kritis, meningkatkan memori, meningkatkan kemampuan untuk fokus saat sedang multi-tasking dan meningkatkan kemampuan berlogika.  Sebuah riset oleh Muratz dan Humphreys juga menyatakan bahwa anak-anak bilingual mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas bacaan anak yang juga terejawantahkan melalui hasil akademis yang lebih baik. Tak sampai di situ, kemampuan seseorang menjadi bilingual dapat mencegah potensi penyakit otak seperti dementia dan alzheimer.

Selain dalam hal-hal yang berhubungan dengan edukasi dan kognitif, Bahasa Inggris juga dapat diutilisasi dalam hubungannya dengan menambah kesempatan kerja anak di masa depan. Sudah amat banyak contoh pekerjaan yang menghargai Bahasa Inggris sebagai nilai tambah bagi calon pekerja, bahkan ada sejumlah pekerjaan yang mewajibkan semua pekerjanya untuk mampu berbahasa Inggris. Menurut survei Eton Institute’s Language Development in the Workforce Survey, 89% klien menyatakan bahwa karyawan multilingual memberi nilai tambah bagi tenaga kerja dan 88% menyatakan bahwa merekrut anggota tim dengan keterampilan bahasa penting bagi organisasi mereka. Maka dari itu, rasanya tidak ada alasan untuk tidak mempelajari bahasa yang kini bukan saja menjadi bahasa sebagai alat komunikasi, melainkan juga sudah menjadi alat efektif bagi seseorang dalam menggapai kesuksesan. Secara holistik, bahasa asing secara umum dan Bahasa Inggris secara khusus amat krusial dalam proses edukasi dan literasi siswa-siswi sebagai modal fundamental kognitif dan wawasannya menghadapi persaingan global yang kian hari makin kompetitif dan menciptakan siswa-siswi yang open-minded dan progresif. Bahasa Inggris adalah modal dan investasi penting sebagai kunci bagi siswa-siswi menuju masa depannya yang lebih cerah dan menjadi masyarakat dunia yang hakiki.