CERPEN: Rahasia Terpendam

“Jonnn!!!” Ibu berteriak memanggilku dengan suaranya yang menggelenggar, bergema memenuhi ruangan kecilku. Dia hanya punya dua alasan untuk menyebut namaku, jika tidak karena aku sedang dalam masalah maka karena kewajibanku yang belum terlaksana. Aku membalas “YA!” perlahan beranjak dari tempat nyamanku. Berlenggang santai melewati ruang makan menuju ruang keluarga. Saat aku sudah berdiri di depannya, tiba – tiba saja dia mencengkeram lenganku “Apa ini!” nadanya naik satu oktaf. Oh, tidak aku sedang dalam masalah batinku membisik. Ia memegang kertas hasil ulangan Matematikaku. Terpampang jelas dipojok kanan kertas itu angka 30. Oh, astaga aku lupa menyembunyikannya. Aku akan mendapat beberapa omelan lagi malam ini, gumamku. Aku hanya terdiam menunduk kebawah berfikir betapa sialnya nasibku. Ia tetap berdiri di hadapanku sembari merutukiku tentang berbagai hal yang tidak bisa ku lakukan. Aku tak bisa menahannya lagi, aku menyambar kertas ulangan itu, menyobeknya dan langsung berlari ke kamar, mengunci pintu rapat – rapat. Aku menangis tersedu – sedu sembari mengeluarkan beberapa kata umpatan. Di sudut kamar kecilku ini, satu – satunya tempat yang menurutku cukup aman dan jauh dari jangkauannya, karena hanya aku yang memiliki kunci kamar ini.

Aku mulai membayangkan hal – hal yang tidak seharusnya aku pikirkan. Aku mereka ulang kejadian hidupku sedari aku masih kecil, hingga sekarang usiaku sudah 17 tahun. Aku rasa kehidupan lamaku sangat bahagia, berbanding terbalik dengan keadaanku saat ini. Jika dulu mereka selalu melontarkan kalimat pujian, sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Aku menghela napas perlahan, menatap keluar jendela, melihat mentari sore yang sejengkal demi sejengkal merangkak kembali ke sarangnya. Tak terasa mataku pun ikut terpejam seiring menggelapnya semesta.

“Hah… Hah…”, nafasku terengah – engah, berat dan sesak menghimpit dada. Ada apa ini aku tidak mengerti. Sekujur tubuhku mulai panik. Beberapa detik kemudian aku berhasil tersadar. Sekitarku tampak gelap dan sepi. Seharusnya ini sudah waktu mandi dan makan malam, kemana teriakan – teriakan yang kerap memanggil namaku? Aku bertanya pada diriku sendiri. Dengan ragu – ragu aku bangkit dan memutar kenop pintu. Suara berderit pintu kayu lamaku tidak terdengar seperti biasanya. Di luar sini tampak lebih terang dan tidak semencekam tadi. Aku ingin memanggil ibuku, tapi aku tidak punya alasan untuk memanggilnya. Lagipula aku juga tidak membutuhkannya, aku biasa menghadapi masalahku sendiri. Aku melangkahkan kaki menyusuri satu persatu ruang yang ada di dalam rumah tuaku ini. Benar saja tidak ada satupun orang disini. Namun ada sebuah pemandangan yang menarik perhatianku, saat aku hendak melewati ruang keluarga aku berdiri didepan tembok besar yang seharusnya tembok itu diisi dengan banyak figura dan ada meja kecil dibawahnya yang penuh dengan foto, piala, dan medaliku. Aku berbakat di bidang olah raga khususnya badminton. Semua orang pasti punya kelebihan dan kelemahan bukan? Tapi yang menyita perhatianku adalah semua foto yang terpajang disana hanyalah aku sendiri tanpa keberadaan kedua orangtuaku dan kakak laki lakiku. Benar – benar hanya aku sendirian. Aku terkejut, tidak percaya dengan mataku sendiri. Apa yang terjadi? Kemana perginya mereka? Apakah semua ini hanya permainan mereka? Atau selama ini aku memang selalu sendirian? Otakku mulai berputar menerka – nerka kemungkinan yang mungkin terjadi. Aku terduduk di kursi depan televisi yang berada di ruang keluarga. Aku mencoba menenangkan diri. Oke, semua akan baik saja, toh selama ini aku sudah biasa sendiri ,pikirku berusaha tenang. Semenjak aku kelas 6 SD kakak laki – lakiku sudah pergi bersekolah diluar negeri. Saat itulah hari – hariku mulai terasa sepi. Jadi kurang lebih sudah 6 tahun lamanya, aku bergelut dengan kesendirian. Aku membuka tudung saji di meja makan, tidak disangka banyak makanan di sini, dan yang lebih mengejutkan adalah semua makanan kesukaanku. Aku kembali bingung, tapi secepat mungkin menghilangkan fikiran itu dan mulai menyantapnya. Setelah aku kenyang, lengang kembali tercipta. Tidak seperti biasanya, ibu biasanya selalu menyuruhku untuk mencuci piring seusai makan. Namun karena sekarang aku sendiri, maka aku memutuskan untuk mencucinya nanti saja. Aku menyalakan televisi dan berbaring di sofa empuk lusuh rumahku selama berjam – jam, ya, sekali tanpa ada yang harus marah – marah memprotes kelakuanku. Ayolah, aku hanya mencari sedikit kesenangan?

Aku melihat jam dinding sudah pukul 9 malam dan tidak ada yang membentakku karena aku belum mandi, hmmm, terasa janggal, tapi juga tenang. Aku beranjak dari sofa dan bersiap membersihkan diri. Setelah mandi aku hanya duduk diam di kamarku ‘lagi’. Aku mentap gemintang yang bergantung di angkasa, ada juga purnama yang bersinar di sana. Sungguh hari yang menyenangkan tanpa ada amarah terletak di dalamnya. Aku terlelap.

Tet… tet… tet… alarmku berbunyi, jarumnya menunjuk angka 6:30. Aku terlonjak dan langsung bergegas menyambar handukku dan mandi, berseragam dan berangkat ke sekolah. Oh, tunggu sebentar, siapa yang akan mengantarku ke sekolah? Apakah sekarang sudah waktunya aku boleh menaiki motorku sendiri? Senyum mengembang di wajahku pagi itu. Menikmati kebebasan yang belum pernah kuperoleh selama ini. Aku langsung mengambil kunci dan segera menyalakan mesinnya. Suara mesin menggerung, melaju dengan kencang meninggalkan halaman rumah. Sesampainya di sekolah semua terasa sama, teman – teman, guru, bahkan para penjual di kantin juga tampak sama. Sepulang sekolah aku bermain terlebih dahulu. Siapa juga yang akan melewatkan kesempatan langka ini? Tidak ada orang tua yang mengekang.

Lelah bermain, akhirnya aku menginjakkan kaki kembali ke rumah. Hawa kesepian dan kesunyian itu terasa kembali. Saat aku melangkahkan kaki ke dalam “Uhhh… Bau busuk apa ini” bau itu menusuk hidungku membuatku ingin muntah. Ternyata sisa makanan dan pakaian kotorku kemarin masih tertinggal di tempat sama. Sial, terlalu malas aku untuk mencucinya. Aku mencoba mengabaikannya, berfikir nanti saja setelah makan malam aku akan membersihkannya pikirku. Saat aku melihat dibalik tudung saji, di sana tidak tersedia apa – apa. Kosong mlompong bahkan tidak sebutir nasipun. Perutku sudah keroncongan menagih untuk diberi makan. Aku berlari ke kamarku mengambil beberapa sisa tabunganku lalu membelikannya makanan, aku juga mencoba untuk mencari dompet ayahku, tapi aku tidak menemukan apa – apa di dalam kamarnya.

Beberapa hari telah berlalu, keadaanku semakin kacau juga keadaan rumah. bahkan saldo tabunganku juga sudah menipis, aku harus mencari pekerjaan pikirku. Namun bagaimana dengan sekolahku? Otakku mulai saling mendebat argumen. Aku mencoba untuk berfikir waras. Mungkin aku akan bisa berfikir jernih setelah aku membersihkan semua tumpukan kotoran di rumahku. Aku mulai membersihkannya satu – persatu. Mulai dari piring kotor, pakaian kotor, hingga lantai, dan barang yang sudah mulai berdebu. Aku membanting tubuh ke sofa “Lelah sekali!” sembari mengusap keringat sebutir jagung di dahiku dan beberapa sisa debu yang menempel di mukaku. Aku melakukan semua ini sendiri, di sisi lain aku merasa bangga dan mulai berfikir betapa lelah setiap hari ibu harus melakukan ini jika tanpa bantuanku. Belum lagi dia juga adalah seorang pekerja dan harus memasak untuk sarapan dan makan malam. Aku mulai merindukan keluargaku.

Hari – hari selanjutnya berhasil ku lewati dan tubuhku mulai terasa lelah harus melakukan semua urusan ini sendirian. Bahkan aku juga mengambil pekerjaan paruh waktu demi menyambung hidup, cukup untuk makanku sehari saja aku sudah bersyukur. Aku juga mulai dipanggil ke ruang kepala sekolah karena tunggaan biaya sekolah. Aku terpaksa harus memutus pendidikan. Aku depresi, frustasi, dan lelah. Jujur, aku merindukan mereka. Bukan hanya karena mereka bisa memberikan kehidupan lamaku kembali dan mencukupi semua keperluanku, tapi juga karena aku mulai belajar bagaimana aktivitas mereka sehari – hari. Ternyata sangat melelahkan. Aku menangis berteriak di antara kebisuan malam, aku berdoa pada Tuhan untuk mengembalikan keluargaku, aku berjanji akan menjadi lebih baik. Aku takut, aku kesepian, aku tidak bisa terus begini. Aku menangis semalaman hingga tidak sadar tertidur. Saat bangun kepalaku terasa berputar, pusing, dan sakit. Aku tergeletak di lantai. Badanku nyeri rasanya tak ingin beranjak dari kerasnya lantai. Namun aku harus bangkit, sebab hidup harus tetap berlanjut. Ketika aku berusaha bangkit terdengar namaku disebut “Jonnn!!!” suara itu sama seperti suara ibuku. Aku langsung memaksakan diri berdiri dan berlari mencari asal suara tersebut, ia sedang berdiri di ruang keluarga memegang kertas ulangan matematika yang terpampang jelas memperlihatkan nilai 30. Aku terpaku, tak sadar meneteskan air mata, aku memeluknya dengan erat dan meminta maaf untuk semua kesalahanku. “Tolong jangan tinggalkan aku sendiri lagi!” suaraku pecah diantara tangisku. Ibu tampak bingung dan balas mendekapku. Aku tidak peduli terlihat seberapa kacaunya diriku, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Diam yang terasa menenangkan memenuhi atmosfer ruang keluarga itu. “Jangan khawatir nak, apapun yang terjadi ibu dan ayah juga kakakmu akan tetap berada di sisimu. Bahkan ketika dunia menolakmu kau akan selalu tahu kemana jalan untuk pulang dan mendapatkan rasa nyaman” tangisku kembali pecah.

Semenjak hari itu hidupku membaik, kita semakin banyak bercerita tentang kegiatan masing – masing, khususnya saat sedang menyantap makan malam. Aku juga menjadi sering menghubungi kakakku. Kehidupanku membaik bahkan sempurna. Kadang yang aku perlukan hanyalah menyadari dan mencoba untuk melihat dari sudut pandang lain. saat aku salah aku memang salah, dan saat aku membantah, aku tahu betapa hancurnya hati mereka. Aku mulai memperbaiki diri. Aku berterima kasih pada Tuhan karena memberikan mimpi buruk itu yang terasa seperti bertahun – tahun. Namun bagaimanapun juga Thanks God.

Oleh: Jessica (X-Pose member)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *